Berita Utusan

Advertise

Dinilai Merongrong NKRI, Banser Tulungagung Hadang Kirap Panji HTI

Diposting oleh On April 01, 2017

Ratusan anggota Banser siaga menanti kedatangan HTI
Utusan Tulungagung - Demi menjaga keutuhan NKRI, ratusan Anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser) Tulungagung menghadang Kirab Panji Rosululloh yang dilakukan jamaah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di perbatasan Trenggalek-Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (1/04).

Dalam aksinya, Banser Tulungagung memaksa rombongan HTI dari Trenggalek berhenti di perbatasan daerah itu dan meminta seluruh peserta kirab mencopot semua atribut HTI maupun panji yang mereka bawa.

Ketegangan sempat terjadi saat pihak HTI menolak melepas atribut dan panji mereka.  Namun setelah ditengahi aparat kepolisian dan TNI, jamaah HTI akhirnya bersedia mengalah dan mencopot segala atribut yang mereka bawa serta membubarkan diri.

Aksi penghadangan dilakukan di Desa Notorejo, Kabupaten Tulungagung yang berada persis di perbatasan daerah itu dengan Trenggalek, sekitar pukul 06.30 WIB hingga 07.30 WIB.

"Penghadangan dan pembubaran ini kami lakukan karena kegiatan mereka diindikasi kuat membawa misi konsep khilafah yang jelas-jelas membahayakan NKRI dan berpotensi memecah belah bangsa," kata Syahrul Munir selaku Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Kabupaten Tulungagung.

Munir mengaku, anggota Banser yang ikut menghadang rombongan HTI berjumlah sekitar 130an orang.

"Ada empat kendaraan mobil dan sejumlah motor yang dihentikan Banser. Mereka datang dari arah Trenggalek dan di hentikan tepat di perbatasan Tulungagung," katanya.
     
Menurut Munir, jamaah HTI berniat estafet Panji Rosululloh dengan membawa misi khilafah mulai dari Ponorogo hingga Banyuwangi yang puncaknya digelar besok (Minggu, 2/4) di Masjid Al-Akbar, Surabaya. Sementara Ansor dan Banser tegas menolak kegiatan itu karena bertentangan dengan prinsip dan komitmen NU sebagai garda terdepan menjaga keutuhan NKRI. "Apapun masalah dan alasannya, NKRI tetap harga mati," Imbuh Munir

Sebagaimana yang diberitakan media online Antara, ditanya terkait klaim akan merusak NKRI, dr Fahrul Ulum,  Ketua HTI Kabupaten Trenggalek mengatakan, konsep khilafah dalam sistem bernegara yang digagas HTI hanya bersifat tawaran bagi rakyat Indonesia, dan tawaran boleh ditolak, boleh diterima.

"Tentang konsep khilafah HTI, sifatnya hanya memberikan tawaran. Logikanya sama seperti tawaran menggunakan listrik, bisa berhemat dalam pemaikaian dan sebagainya. Artinya dinamika kedepan tawaran itu bisa saja diterima atau ditolak, sehingga kami (HTI) mengedepankan dialog," katanya.

Selebihnya Fahrul menambahkan, kegiatan yang mereka gelar hanya bersifat edukasi ketauhidan bagi umat islam dengan mengingatkan sejarah keislaman di zaman Nabi Muhammad SAW.

"Melalui kegiatan kirab Panji Rasulullah ini, kami berkeingingan melakukan kegiatan edukasi sekaligus sosialisasi kepada masyarakat, khususnya umat muslim di Tanah Air tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW sehingga bisa meneladaninya sesuai ajaran Islam. Panji yang kita kirap adalah panji aliwak yang berwarna putih dan aroyah yang berwarna hitam. Dua panji ini selalu dibawa Rosululloh kemanapun beliau pergi sebagai simbol perjuangan dan syiar yang dilakukan kala itu," kata Fahrul menjelaskan.

Menanggapi statemen Fahrul, Yoyok Mubarok selaku Kepala Banser Satuan Kordinasi Cabang (Satkorcab)  Tulungagung menyampaikan, ucapan Fahrul justru membuktikan bahwa HTI memang berkeinginan merubah sistem NKRI.

"Itu kan justru memperkuat dan menjadi bukti kongkrit bahwa mereka memang merong-rong NKRI, tahu seperti ini harusnya pemerintah Indonesia sudah bertindak, bukan malah Banser yang bergerak." Tutur Yoyok.

Yoyok menegaskan,  Pemerintah hari ini dapat dikatakan kecolongan, ormas yang tidak berasaskan pancasila bisa lolos izin dan berkembang di indonesia. "Sarusnya pemerintah segera mengevaluasi dan membubarkan organisasi HTI." Pungkasnya.

Selain di perbatasan Trenggalek-Tulungagung, anggota Banser lain juga terpantau bersiaga dan melakukan penghadangan di berbagai kabupaten/kota SE-Jawa Timur. Termasuk di perbatasan Tulungagung-Kediri, Tulungagung-Blitar, dan Blitar-Malang. (in)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »