Berita Utusan

Advertise

Protes Proyek Asal-asalan di Tulungagung

Diposting oleh On Desember 31, 2016

Ilustrasi Bangunan Hasil Pengerjaan Asal-asalan
Utusan Tulungagung - Warga Desa Bendilwungu, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung mempertanyakan pembangunan jalan paving yang dikerjakan oleh Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya di desa mereka. Sebab, proyek  senilaiRp 130 juta pada 2015 itu terkesan asal-asalan.

Indikasinya, jalan yang dipaving terlihat bergelombang.Selain itu warga menilai, proyek pavingisasi tergolong mahal. Yakni Rp 130 juta hanya untuk sekitar 300 meter persegi.

Hal tersebut diungkapkan Khoirul, 40 tahun. Ia mengatakan, pembangunan jalan paving tersebut tidak rata dan pemasangan paving banyak yang menonjol.

"Awal ketika pemavingan dimulai, kami sudah menanyakan ke tukang pasang paving. Kenapa pemasangannya asal letak sehingga tidak rata.Namun tukang paving tersebut berkilah bahwa tidak rata tidak masalah karena setelah selesai akan diratakan dengan mesin tumbuk. Namun nyatanya hingga kini tidak,”ungkapnya.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu juga menuturkan, ada semacam sandiwara dari pemasangan paving tersebut. Karena setelah pengerjaan selesai, memang ada mesin vibro didatangkan kelokasi. Entah mengapa mesin yang seharusnya untuk meratakan paving hanya diturunkan di perempatan, mesin di hidupkan kemudian meminta seorang warga untuk memegang mesin tersebut untuk di foto-foto, setelah itu diangkut lagi tanpa meratakan paving.

Hal senada diungkapkan Yanto, 34 tahun. Menurutnya, dengan dana sebesar itu bisa didapatkan paving dan pengerjaan yang berkualitas. "warga desa ini kan sudah biasa memasang paving sendiri. Bahkan tukang tukang disini hitungannya juga hapal di luar kepala. Jadi kalau melihat pemavingan yang dilakukan oleh orang yang konon profesional seperti itu ya cuma bisa mengelus dada. Kalah jauh sama kita yang tukang kampung," tegasnya.

Yanto yang juga tukang bangunan tersebut berpendapat, kalau lihat di papan nama sungguh amat disayangkan.Mestinya dana sebesar itu bisa untuk memaving jalan yang lain. Namun begitu, dia mengaku tidak memahami aturan main di birokrasi terkait pajak ataupun fee yang berlaku.

Penelusuran tim Utusan di lapangan mendapatkan, nama Rudi sebagai kontraktor proyek. Dia mengaku sebagai anggota Apaksindo. Awalnya, di sambungan telepon, ia menyatakan sudah dilakukan perataan dengan mesin tumbuk. Namun ketika diberitahu realita di lapangan, seakan ia terkejut, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan yang dilapangan dan akan menindak lanjuti informasi tersebut dengan membenahinya. Namun hingga berita ini ditulis tidak ada tindakan lebih lanjut.

Di sisi lain pemavingan tersebut telah melewati masa pemeliharaan.Bisa jadi kontraktor tersebut sudah menyerahkan proyek itu ke pihak yang bertanggung jawab.

Meski demikian masyarakat sekitar memang harus berterima kasih kepada pemerintah daerah, karena jalan makadam yang biasanya "gronjalan" saat dilalui, kini sudah terpasang paving hasil dari uang rakyat juga. Namun begitu, mereka berharap pembangunan di tempat lain tidak seperti di desa tersebut.(tur)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »