![]() |
| Ilustrasi Bangunan Hasil Pengerjaan Asal-asalan |
Indikasinya,
jalan yang dipaving terlihat bergelombang.Selain itu warga menilai, proyek
pavingisasi tergolong mahal. Yakni Rp 130 juta hanya untuk sekitar 300 meter
persegi.
Hal
tersebut diungkapkan
Khoirul, 40 tahun. Ia mengatakan, pembangunan jalan
paving tersebut tidak rata dan pemasangan paving banyak yang menonjol.
"Awal ketika pemavingan dimulai, kami sudah menanyakan ke tukang pasang
paving. Kenapa pemasangannya asal letak sehingga tidak rata.Namun tukang paving
tersebut berkilah bahwa tidak rata tidak masalah karena setelah selesai akan
diratakan dengan mesin tumbuk. Namun nyatanya hingga kini tidak,”ungkapnya.
Pria
yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu juga menuturkan, ada semacam
sandiwara dari pemasangan paving tersebut. Karena setelah pengerjaan selesai,
memang ada mesin vibro didatangkan kelokasi. Entah mengapa mesin yang
seharusnya untuk meratakan paving hanya diturunkan di perempatan, mesin di
hidupkan kemudian meminta seorang warga untuk memegang mesin tersebut untuk di
foto-foto, setelah itu diangkut lagi tanpa meratakan paving.
Hal
senada diungkapkan Yanto, 34 tahun. Menurutnya, dengan dana sebesar itu bisa didapatkan
paving dan pengerjaan yang berkualitas. "warga desa ini kan
sudah biasa memasang paving sendiri. Bahkan tukang tukang disini
hitungannya juga hapal di luar kepala. Jadi kalau melihat pemavingan yang
dilakukan oleh orang yang konon profesional seperti itu ya cuma bisa mengelus
dada. Kalah jauh sama kita yang tukang kampung," tegasnya.
Yanto
yang juga tukang bangunan tersebut berpendapat, kalau lihat di papan nama
sungguh amat disayangkan.Mestinya dana sebesar itu bisa untuk memaving jalan
yang lain. Namun begitu, dia mengaku tidak memahami aturan main di birokrasi
terkait pajak ataupun fee yang berlaku.
Penelusuran
tim Utusan di lapangan mendapatkan, nama Rudi sebagai kontraktor proyek. Dia
mengaku sebagai anggota Apaksindo. Awalnya, di sambungan telepon, ia menyatakan sudah dilakukan
perataan dengan mesin tumbuk. Namun ketika diberitahu realita di lapangan,
seakan ia terkejut, pihaknya
akan segera berkoordinasi dengan yang dilapangan dan akan menindak lanjuti
informasi tersebut dengan membenahinya. Namun hingga berita ini ditulis tidak
ada tindakan lebih lanjut.
Di
sisi lain pemavingan tersebut telah melewati masa pemeliharaan.Bisa jadi
kontraktor tersebut sudah menyerahkan proyek itu ke pihak yang bertanggung
jawab.
Meski demikian masyarakat sekitar memang harus berterima kasih
kepada pemerintah daerah, karena jalan makadam yang biasanya
"gronjalan" saat dilalui, kini sudah terpasang paving hasil dari uang
rakyat juga. Namun begitu, mereka berharap pembangunan di tempat lain tidak
seperti di desa tersebut.(tur)
