![]() |
| Syahri dan para Penantangnya (Cover Tabloid Edisi 1) |
Jika Ia Macung Lagi di Pilkada Februari 2018
Utusan
Tulungagung - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tulungagung diperkirakan digelar
Juli 2018. Waktu yang kurang 2 tahun lagi bukanlah lama. Bahkan beberapa calon
sudah mulai pasang badan alias ancang-ancang untuk macung bupati.
Ya, genderang perang pilkada
Tulungagung sudah ditabuh. Indikasinya, ada yang sudah menyusun tim meski masih
skala kecil. Salah satunya H. Gatut Sunu Wibowo. Bos toko bangunan Romowijoyo
itu membentuk tim survey untuk mengukur kepopuleran dan elektabilitasnya.
Ada juga yang bergerilya agar parpol
mendukungnya dalam pilkada mendatang. Tak sedikit yang menyebar kaus bergambar
calon ke masyarakat. Atau sudah menemui calon pemilik alias bergerilya. Semua
bertujuan satu, kursi bupati Tulungagung.
Membincang tentang balon Bupati
Tulungagung, nama Syahri Mulyo (bupati
Tulungagung sekarang) paling sering disebut oleh masyarakat. Bisa dikatakan,
saat ini, Syahri Mulyo merupakan kandidat terkuat. Ini bisa dimaklumi.
Mengingat, banyak kelebihan Syahri dibandingkan dengan nama lainnya.
Apa saja kelebihan Syahri?
Pertama, ia merupakan pentahana
alias incumbent. Diperkirakan, saat pilkada berlangsung, pria kelahiran Ngunut
itu sudah tidak menjabat sebagai Bupati Tulungagung. Meski begitu, birokrasi
masih berada di pegangan tangannya. Padahal suara birokrasi sangat “mewarnai”
suara pilkada.
Kedua, Syahri selama lima tahun
terakhir bergaul dengan warga Tulungagung. Istilahnya, ngeloni Tulungagung. Karena beraudiensi dengan warga maka ia tahu
apa yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh mereka.
Kita tahu, bahwa di
era ini, massa adalah raja. Artinya, massa bisa menjadikan seseorang menjadi raja. Asalkan, ia
bisa memuaskan keinginan massa. Inilah kesempatan bagi Syahri untuk memenuhi
keinginan warga Tulungagung. Jika ia berhasil menarik simpati warga, bukan
tidak mungkin Syahri terpilih kali kedua menjadi Bupati Tulungagung.
Ketiga, putra daerah. Tidak bisa
dipungkiri, isu ini yang digunakan Syahri dan Maryoto dalam pilkada lalu.
Mereka menyatakan sebagai putra daerah. Dan kampanye tersebut sukses merebut
simpati masyarakat saat itu.
Keempat, jaringan Syahri saat
mengantarkan dirinya menjadi bupati dalam pilkada lalu, diperkirakan masih
solid. Jika ada yang tak puas satu atau dua orang, masih tergolong wajar.
Jaringan Syahri sangat militan saat itu.
Tentu masih banyak kelebihan
Syahri Mulyo jika dibanding kandidat lain. Misalkan, saat ini, dirinya yang
mengendalikan APBD Tulungagung. Ini merajuk stetmen anggota DPR RI Arteria
Dahlan. Dalam orasi saat halal bihalal di rumah Gatut Sunu, ia mengatakan jika
lawan pilkada terberat adalah pemegang kendali APBD. Rasanya, ini merujuk ke
Syahri Mulyo.
Melihat banyak kelebihan Syahri,
adakah yang berani tarung melawannya di pilkada 2018? Bisa dikatakan, Syahri
Mulyo ibarat Superman yang sulit dikalahkan oleh lawan-lawannya.
Atau, jika pilkada disamakan
dengan perang, maka Syahri memiliki segalanya. Seperti pasukan (yakni kader
yang militan), amunisi (penggunaan dana APBD untuk mendukung
program-programnya), strategi (dengan masih menjabat sebagai bupati, ia bisa
menuntaskan visi dan misinya), dan lain sebagainya.
Syahri sendiri ketika
dikonfirmasi, mengaku masih belum memikirkan pilkada. Ia konsentrasi
menuntaskan tugas bupati hingga akhir jabatan. “Pilkada kan masih lama. Saya
akan melaksanakan tugas-tugas saya dulu,” katanya saat dihubungi via SMS oleh Utusan Rakyat.
Ketika didesak lagi apakah akan
macung atau tidak saat pilkada 2018, Syahri tetap mengatakan tugas sebagai
bupati belum berakhir. Ia ingin menyelesaikan tugas tersebut dengan sebaik
mungkin.
Meski begitu, tanda-tanda Syahri
macung lagi di pilkada 2018 sudah terbaca. Seperti, kini beredar kaus yang
bertuliskan; Bupatiku Syahri Mulyo,
Lanjutkan. Belum diketahui siapa yang membuat kaus berwarna merah itu.
Apakah instruksi Syahri atau bukan? Namun kaus tersebut sudah beredar meski
mungkin jumlahnyaa tidak begitu banyak.
Saat mengunjungi pembangunan
kantor UPTD Pendidikan Kecamatan Pakel, Syahri bertemu dengan sejumlah kepala
SD. Syahri pun berujar; “Jangan lupa saya yang menandatangani SK pengangkatan
Anda semua.” Ucapaan itu dibalas oleh para kepala SD. “Inggih Pak. Kami tak
akan lupa.” Lantas, Syahri berfoto bersama para kepala SD.
Begitu juga saat Ny Wiwik Syahri
dan Bunda Siuk Maryoto ke Balai Desa Sambitan, Kecamatan Pakel, saat
sosialisasi Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Ny Wiwik berpesan ke sejumlah orang
bahwa dirinya masih nyaman berpasangan dengan Bunda Siuk Maryoto. “Jangan lupa,
kami masih terus berpasangan lho…,”
kata Ny Wiwik Syahri.
Mereka kah Lawan Syahri…?
Memang partai politik belum
membuka pendaftaran untuk calon bupati dan wakil bupati. Namun sejumlah orang
menyatakan siap macung Bupati Tulungagung pada 2018 mendatang. Diantara
beberapa tokoh tersebut adalah:
Ir. H. Alfa Isnaeni M.SI
Alfa, merupakan salah satu tokoh
pemuda Tulungagung yang saat ini menjabat Kepala Satuan Kordinasi Nasional
(Kasatkornas) Banser Indonesia. Sekarang, Alfa berniat untuk macung (mencalonkan diri) di Pilkada
2018 mendatang.
Pernyataan di muka umum memang
belum pernah dia lakukan. Namun saat Utusan
Rakyat melakukan wawancara dengannya, ia mengatakan siap mengikuti
pertarungan politik di pilkada 2018 nanti.
Alfa juga mengatakan, masih belum
bisa menentukan akan macung sebagai balon Bupati atau Wakil Bupati. Namun
jika ada kesempatan macung sebagai balon Bupati, ia akan mengambilnya. “Saya
masih belum memutuskan memilih yang mana, tapi kalau ada kesempatan menjadi
balon Bupati mengapa tidak?” ucap Alfa.
Menurut alfa, ada banyak hal yang
harus dibenahi pada pemerintahan saat ini, salahsatunya di bidang perekonomian. “Hari
ini, masyarakat dibenturkan dengan perputaran ekonomi yang semakin menyudutkan
mereka. Mereka harus betul-betul diperhatikan dan dipenuhi hak-haknya. Jangan
sampai ada kebijakan yang menyusahkan rakyat” ujarnya.
Masalah inilah yang mendorong hati
Alfa berkeinginan maju sebagai balon di pilkada 2018 nanti agar Tulungangung
menjadi kabupaten yang sejahtera dan bermartabat.
Sekilas tentang Alfa. Pada tahun
2014 lalu, ia sempat menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia (DPR-RI) dari Partai Gerindra, meski akhirnya harus gagal menjadi
anggota DPR-RI saat itu.
Bagi Alfa, kegagalan bukanlah
perkara yang harus disesali. Sebab Alfa menganggap, kegagalan adalah bentuk
jawaban dari Tuhan bahwa ia memang belum kuat menerima amanah itu. “Kegagalan
adalah hal yang wajar dalam segala urusan, tinggal kita bagaimana menyikapinya.
Jika kita faham pelajaran apa yang ada dibalik kegagalan itu, tentu mental kita
akan selalu siap saat menemui sebuah kegagalan,” ujar Alfa dengan nada tenang.
Alfa
juga mantan anggota DPRD Tulungagung periode 1999-2004 dan 2004-2009. Selama
menjabat dua periode wakil rakyat dari PKB ini, Alfa mengetahui perbagai
permasalahan di Tulungagung.
H. Gatot Sunu Wibowo
Tentu sebagian dari kita taka asing dengan nama Gatut Sunu Wibowo atau
yang akrab dipanggil Gatut. Dia seorang pengusaha
sukses, pemilik toko bangunan ternama
Ditulungagung. Selain
itu, usaha yang dimiliki Gatut juga bergerak di bidang kesehatan.
Akhir-akhir ini, nama Gatut mulai terdengar setelah
baliho-baliho kecil bertuliskan namanya tersebar di seluruh pelosok Kabupaten
Tulungagung. Pasca tersebarnya baliho-baliho kecil di Tulungagung, perbincangan
masyarakat tentang Gatut pun dimulai. Gatut diisukan akan macung di Pikada 2018. Benarkah
demikian?
Saat Reporter Utusan Rakyat menemuinya di toko tempat biasa ia bekerja, Gatut mengamini adanya isu tersebut. Bahkan
ia sudah membentuk tim untuk melangkah ke pilkada 2018. “Memang ada niatan ke
arah sana, namun inikan masih sangat jauh untuk menentukan keputusan,” ujarnya ramah.
Disinggung tentang rencananya akan memilih jadi Balon Bupati
atau sebagai Wakilnya, ia mengatakan masih belum menentukan hal itu, terlebih
menentukan partai mana yang akan merekomndasikannya. “Namanya juga politik,
setiap saat bisa berubah. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya.” Kata Gatut.
Masih
menurut Gatut, Saat
ini langkah awal yang dilakukannya masih sebatas menjalin tali silaturahim dengan
tokoh dan masyarakat Tulungagung. Baginya, bukan tidak mungkin masih ada
masyarakat Tulungagung yang belum mengenal dirinya. “Saat ini kita berusaha
membangun silaturahim dengan semua pihak tanpa terkecuali, terutama dengan
masyarakat menengah ke bawah,” ujar Gatut.
Ia
juga
mengatakan,
tujuan utamanya macung dipilkada nanti hanya ingin berjuang
bersama masyarakat dalam membangun perekonomian agar lebih maju lagi. “Sebagai
rakyat Tulungagung, saya memahami, masyarakat butuh perubahan yang signifikan. Atas
dasar itulah dibutuhkan perjuangan untuk membantu rakyat. Jika nanti saya
berkesempatan mengemban amanah rakyat, insyalloh saya akan menjalankannya
dengan baik,” ujarnya.
Supriyono (Ketua DPRD
Tulungagung)
Mas Pri, panggilan akrab
Supriyono, merupakan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tulungagung
saat ini. Selain menjadi Ketua DPRD, ia juga menjabat sebagai ketua partai DPC Partai
Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P).
Saat ini karir politik Mas Pri di
Kabupaten Tulungagung memang mencapai puncak. Oleh karenanya, saat ditanyai
kabar tentang dirinya yang akan mencalonkan diri menjadi Bupati Tulungagung, ia
mengaku memang berniat macung di
pilkada 2018 nanti.
Kekuatan Mas Pri di pilkada 2018 boleh
dibilang sama dengan Syahri, sama-sama menguasai peta dan dikenal banyak orang.
Hanya saja pertarungan keduanya justru akan terjadi di internal partai PDI-P
sendiri. Sebab, antara Syahri dan Mas Pri, sama-sama menjadi kader PDI-P
sehingga partai akan memilih, siapa yang bakal di usung PDI-P dalam pilkada
2018 lalu.
Namun terlepas dari kebijakan
partai, atas nama pribadi Supriyono mengatakan sudah sangat wajar jika ia bergeser
mencalonkan diri sebagai bupati. Sebab dirinya termasuk senior di partainya. Karir
politiknya pun sudah mencapai puncak di Tulungagung.
“Saya sudah lama berkecimpung di
dunia politik Tulungagung, tentu sangat wajar jika setelah lama menjadi Ketua
DPRD Tulungagung. Periode depan saya berpindah macung bupati,” ujar Mas Pri saat ditemui di kantor partainya.
Namun di sisi lain Mas Pri
menegaskan, macungnya dirinya di Pilkada 2018 tentu harus berdasarkan restu
dari partai. Tanpa restu itu, ia tidak akan mencalonkan dirinya di pilkada
nanti. “Saya orang partai, jadi kepastiannya bagaimana tergantung irama partai,”
tegasnya.
Maryoto Birowo (Wabub Tulungagung)
Berbeda Supriyono, Sikap
kehati-hatian justru diperlihatkan Maryoto Birowo saat
ditanya Reporter Utusan Rakyat terkait persiapan
Pilkada 2018 mendatang. Menurut pria yang kini menjabat Wakil Bupati
Tulungagung itu, pertarungan dua tahun mendatang bakal seru. Karena banyak
calon kuat yang bakal bertanding.
Maryoto
mengatakan siap maju untuk kali kedua. Tentu jika dirinya masih memenuhi
persyaratan. Ia mengatakan, untuk menjadi pemimpin dibutuhkan kompetensi dan
fisik yang baik. Ini seperti pengalaman yang dialaminya selama ini.
Namun begitu,
Maryoto menyatakan tidak ingin macung sebagai bupati. Ia tetap memilih jadi
wakilnya saja. Bagi dia, bupati biarlah yang
lebih muda, sebab pemuda memiliki tenaga dan fisik yang
masih
memungkinkan.
Ia
mengatakan, dibutuhkan kompetensi dan fisik yang kuat untuk menjadi bupati.
Kompetensi, semisal pengetahuan yang luas. Karena yang ditemui dari berbagai
kalangan. Sedangkan fisik juga harus prima. Sebab, waktu kerja nyaris 24 jam.
Siap kapanpun saat dibutuhkan warga.
Didesak,
apakah bakal terus bergandengan tangan dengan Syahri Mulyo pada pilkada
mendatang, Maryoto menjawab diplomatis. Menurutnya, masih terlalu dini membahas
Syahri-Maryoto (Sahto) Jilid II.Sebab, pilkada masih dua tahun lagi. Dalam
kurun dua tahun, perubahan bisa saja terjadi.
“Masih
lama Mas. Dinamika politik selama dua tahun ke depan masih memungkin banyak hal
terjadi. Saya menunggu perkembangan saja. Namun begitu, juga bukan hal mustahil
jika Sahto jilid II terwujud,” kata Maryoto saat ditemui di rumah dinas wakil
bupati Jalan Yos Sudarso belum lama ini. (ieL)
