Berita Utusan

Advertise

Bidang Kesra Tulungagung Gandeng BNN dan Kodim Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Aliran Radikal ke Guru TPQ dan Madin

Diposting oleh On Desember 30, 2016



Guru-guru TPQ dan Madin terlihat serius mengikuti sosialisasi
Utusan Tulungagung - Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung melakukan pembinaan dan sosialisasi tentang  bahaya narkoba dan aliran radikal kepada guru Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin) se-Kecamatan Kalidawir. Kegiatan yang dilangsungkan di gedung Serba Guna Kecamatan Kalidawir pada Sabtu (12/11) itu juga melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kodim Resort 0807 Tulungagung.

Suyadi, Kabag Kesra Pemkab Tulungagung
Hadir dalam acara tersebut, Kepala Bagian (Kabag) Kesra Pemkab Tulungagung Suyadi, Pejabat BNN Tulugagung, Kepala Seksi (Pasi) Intel Kodim  0807 Resort Tulungagung Siswanto, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tulungagung Lukman Hakim, Camat Klidawir Sun’an, Ketua MWC NU Kalidawir Ja’i, dan seluruh ustadz serta guru Madrasah se-Kecamatan Kalidawir.

Sebenarnya pembinaan ini tidak hanya dilakukan di Kecamatan Kalidawir, tetapi juga di beberapa kecamatan lain. Tujuannya mengenalkan kepada para guru TPQ dan madin tentang jenis-jenis juga bahaya narkoba, dinamika perkembangan faham radikalisme yang sudah masuk ke Indonesia, sekilas menginformasikan tentang situasi politik yang sempat memanas akhir-akhir ini.  Penyampaian materi dilakukan oleh Salah satu pejabat BNN Tulungagung, Pasi Intel Kodim 0807 Resort Tulungagung Siswanto, dan Lukman Hakim, Ketua PCNU Tulungagung.

Saat menyampaikan materi, Pihak BNN memandang, selain pengetahuan agama, para guru TPQ dan madin saatnya mengenal jenis-jenis narkoba. Menurutnya, pengetahuan tentang narkoba erat kaitannya dengan dunia pendidikan anak dan remaja. “Jika seorang guru tidak mengetahui jenis-jenis narkoba dan reaksi seseorang saat mengonsumsinya, bagaimana mereka bisa mengajarkan bahwa narkoba ini bahaya? Jangan sampai semisal ada murid atau santri yang sempoyongan karena narkoba, justru guru tidak mengetahuinya,ujarnya.

Pembahasan tentang narkoba semakin seru ketika hal mengejutkan muncul pada sesi pertanyaan. Seorang guru menyampaikan laporan dari salah satu wali murid, bahwa anaknya sempoyongan setelah memakan permen yang dibeli dari pedagang keliling. Mendengar laporan tersebut, Pihak BNN mengatakan agar segera melaporkan pada pihak BNN atau kepolisian setempat jika mengetahui keberadaan penjual tersebut.

Menurutnya, akhir-akhir ini di Indonesia mulai marak modus pengedar narkoba melalui permen. Kasus yang muncul di Jawa Tengah. Kondisinya nyaris sama dengan yang disampaikan wali murid tadi. Setelah diadakan pemeriksaan terhadap permennya, diketahui permen tersebut telah tercampur dengan narkoba.

Setelah materi narkoba selesai, pembahasan dilanjutkan dengan mengulas dinamika aliran radikal di Indonesia yang disampaikan oleh Siswanto. Penyampaian dilakukan seiring munculnya berbagai isu aliran radikal yang berkembang. Termasuk diantaranya isu tentang adanya aliran radikal yang turut menunggangi gelaran aksi besar-besaran pada Jumat (4/11) lalu dan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Siswanto berharap para guru TPQ dan madin, atau yang biasa di panggil ustadz/ustadzah,  bisa memilah dan memilih serta selektif dalam menyerap informasi agar tidak terprofokasi dengan banyaknya isu yang berkembang di masyarakat. Apalagi aliran radikal yang banyak bermunculan berasal dari umat islam. “Mana informasi valid dan mana informasi yang hanya ingin memecah belah NKRI, Asatidz  harus bisa mengetahui hal itu,” kata Pasi intel tersebut.

Sementara itu guna meyakinkan betapa bahayanya aliran radikal islam, penjelasan pun  dilanjutkan oleh Lukman Hakim, Ketua PCNU Tulungagung. Ia menyampaikan saat ini aliran islam radikal telah merongrong NKRI. Mereka terus berusaha menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam, padahal tidak semua rakyat Indonesia beragama Islam. “Sah-sah saja membuat negara Islam, asalkan semua masyarakatnya beragama Islam,” tuturnya.

Masih merutut Lukman Hakim, jika Indonesia dipaksakan menjadi Negara Islam, maka akan muncul perpecahan. Analisanya, di pulau-pulau tertentu umat non muslim menjadi mayoritas. Jika terjadi gejolak, tidak menutup kemungkinan umat muslim di sana yang menjadi korbannya. “Akidah boleh sama, namun jika NKRI diganggu, maka NU akan menjadi barisan utama yang melawan,tegasnya.

Penyampaian ketiga pemateri tersebut dibenarkan oleh Suyadi, Kepala Bagian Kesra Pemkab Tulungagung. Ia mengatakan bahaya narkoba dan faham radikalisme harus sedini mungkin diantisipasi. Sebab itulah pemkab terus menggalakkan pembinaan terkait hal tersebut. “Jangan sampai kita kecolongan. Apapun akan kami lakukan jika itu demi keamanan dan kenyamanan masyarakat Indonesia,” paparnya.

Suyadi mengaku kegiatan pembinaan ini tidak bisa ia lakukan sendirian, melainkan harus menggandeng ahlinya, yaitu BNN dan Kodim 0807 Resort Tulungagung. Sebelum di Kalidawir, ia telah melaksanakan kegiatan semacam ini di Kecamatan Pakel, Campurdarat, Karangrejo, dan Kecamatan Gondang. Tujuannya pun sama, untuk mengenalkan lebih jauh kepada guru TPQ dan madin terhadap bahaya narkoba dan faham radikalisme. (ieL)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »