Berita Utusan

Advertise

Politisi Busuk

Diposting oleh On Desember 30, 2016

iLham Nadhirin
“Ketika politisi memanggilmu sahabat, maka bersiaplah kamu untuk dibohongi dan sakit hati.” Mungkin kata Noam Chomsky inilah yang tepat diucapkan sebagai gambaran bobroknya moral kebanyakan politisi saat ini.

Politisi atau politikus adalah seseorang yang bergelut dalam dunia politik, baik masuk di keanggotaan partai atau tidak. Sewajarnya, setiap pergerakan politisi tidak lain dan tidak bukan harus bertujuan menyejahterakan rakyat. Namun hari ini, politisi seakan hanya mementingkan Syahwat perutnya sendiri.

Seperti yang kita lihat selama ini, setiap pemilu (pemilihan umum) tiba banyak kalangan masyarakat menerima janji-janji manis dari politisi.  akhirnya, janji tinggalah sebuah janji, sang politisi nikmati gaji, rakyat pun gigit jari.

Memang, Janji politisi seakan senjata andalan yang sengaja disiapkan untuk bertempur dalam pesta demokrasi. Bungkusnya pun bervariasi, ada yang memakai “daun” peningkatan ekonomi, “kertas” peningkatan pembangunan di setiap wilayah, adapula yang menggunakan “kantong plastik” bantuan Rp 1 miliar per tahun per desa. Namun demikian, apapun bungkusnya kebanyakan janji politisi memang manis saat didengar dan busuk setelah dirasakan.

Busuknya janji-janji politisi harusnya menjadikan masyarakat sadar bahwa Indonesia membutuhkan nahkoda yang bertanggung jawab, bukannya mereka sang penebar janji. Jika kita berhitung secara matematis, janji saat kampanye pemilu dan realita pasca terpilih, dipastikan banyak janji yang tak ditepati. Tentu hal ini menyakitkan bagi kita.

Penulis realis Portugis José Maria de Eça de Queiroz mengatakan, Politisi tak ubahnya seperti popok bayi (Pempers), harus sering diganti karena kotor. Pengkiasan ini agaknya memang tepat. Jika politisi tidak bisa dicuci, maka solusi tepatnya harus diganti. Namun apa hal ini dilakukan di negara kita? Kayaknya tidak, realitas di Indonesia justru sebaliknya, semakin pintar seorang politisi menyembunyikan kotoran, semakin kuat pula ia dipertahankan.

Contoh sederhananya adalah, Sudah tahu sang calon pernah masuk penjara karena korupsi, masih saja partai-partai mau mengusungnya kembali sebagai pemimpin rakyat.

Hal semacam itu bukanlah rahasia lagi bagi kita. Hanya anehnya, di saat rakyat telah mengetahui realita seperti itu, sebagaian besar dari mereka masih saja memilih politisi busuk itu sebagai pemimpin. Mengapa? Apa karena money politik? Atau Jangan-jangan rasa cinta mereka kepada bangsa ini sudah tiada?

Apapun alasannya, Inilah yang harus diperbaiki oleh kita. Sudah saatnya rakyat membuka mata, lihat baik-baik siapa calon pemimpin kita. Jangan hanya karena duit, nasib bangsa jadi taruhannya. (ieLham)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »