![]() |
| iLham Nadhirin |
“Ketika
politisi memanggilmu sahabat, maka bersiaplah kamu untuk dibohongi dan sakit hati.” Mungkin kata Noam Chomsky inilah yang tepat diucapkan sebagai gambaran bobroknya moral kebanyakan politisi
saat ini.
Politisi
atau politikus adalah seseorang yang bergelut dalam dunia politik, baik masuk
di keanggotaan partai atau tidak. Sewajarnya, setiap pergerakan politisi tidak
lain dan tidak bukan harus bertujuan menyejahterakan rakyat. Namun hari ini,
politisi seakan hanya mementingkan Syahwat perutnya sendiri.
Seperti yang kita lihat
selama ini, setiap pemilu (pemilihan umum) tiba banyak kalangan
masyarakat menerima janji-janji manis dari politisi.
akhirnya, janji tinggalah sebuah janji,
sang politisi nikmati gaji, rakyat pun gigit jari.
Memang,
Janji politisi seakan senjata andalan yang sengaja disiapkan
untuk bertempur dalam pesta demokrasi. Bungkusnya pun bervariasi, ada yang
memakai “daun” peningkatan ekonomi, “kertas” peningkatan pembangunan di setiap
wilayah, adapula yang menggunakan “kantong plastik” bantuan Rp 1 miliar per tahun
per desa. Namun demikian,
apapun bungkusnya kebanyakan janji politisi memang manis saat didengar dan busuk setelah dirasakan.
Busuknya
janji-janji politisi harusnya menjadikan masyarakat sadar bahwa Indonesia membutuhkan
nahkoda yang bertanggung jawab, bukannya
mereka sang penebar janji. Jika kita berhitung
secara matematis, janji saat kampanye pemilu dan
realita pasca terpilih, dipastikan banyak janji yang tak ditepati. Tentu hal ini menyakitkan bagi kita.
Penulis
realis Portugis José Maria de Eça de Queiroz mengatakan, Politisi tak ubahnya
seperti popok bayi (Pempers), harus sering diganti karena kotor. Pengkiasan ini
agaknya memang tepat. Jika politisi tidak bisa dicuci, maka solusi tepatnya
harus diganti. Namun apa hal ini dilakukan di negara kita? Kayaknya tidak,
realitas di Indonesia justru sebaliknya, semakin pintar seorang politisi menyembunyikan kotoran, semakin
kuat pula ia dipertahankan.
Contoh sederhananya
adalah, Sudah tahu sang calon pernah masuk penjara karena korupsi, masih
saja partai-partai mau mengusungnya kembali sebagai
pemimpin rakyat.
Hal semacam
itu bukanlah rahasia lagi bagi kita. Hanya anehnya, di saat rakyat telah mengetahui realita seperti itu, sebagaian
besar dari mereka masih saja memilih politisi busuk itu sebagai pemimpin. Mengapa? Apa karena money politik? Atau Jangan-jangan
rasa cinta mereka kepada bangsa ini sudah tiada?
Apapun alasannya, Inilah yang
harus diperbaiki oleh kita. Sudah saatnya rakyat membuka mata, lihat baik-baik
siapa calon pemimpin kita. Jangan hanya karena duit, nasib bangsa jadi
taruhannya. (ieLham)
