Berita Utusan

Advertise

Sekilas tentang Maryoto Birowo (Wabub Tulungagung)

Diposting oleh On Desember 30, 2016

Wabub Tulungagung Maryoto Birowo
Andal di Birokrat, Ramah dengan Rakyat
Utusan Tulungagung - Perjalanan karir Maryoto Birowo menanjak terus. Mulai PNS rendahan hingga menduduki jabatan tertinggi di birokrasi, yakni sekretaris daerah. Jabatan yang didudukinya juga sangat strategis. Mulai kepala bapeda, kepala dinas pendidikan dan masih banyak lagi lainnya.

Dengan segudang pengalaman tersebut, tak berlebihan jika Maryoto Birowo sangat andal dalam bidang birokrasi. Ia mengetahui seluk-beluk anggaran dan peraturan pemerintah.

Meski begitu, pria asli Besuki, Tulungagung, ini juga sangat ramah dengan rakyat. Pintu rumah dinas wakil bupati di Jalan Yos Sudarso terbuka lebar untuk siapa pun. Nyaris saat pagi hari, warga antre bertemu dengan dirinya. Maryoto pun siap mendengarkan dan mengupayakan jalan keluar setiap permasalahan.

Kadang, kebaikkan pria beristrikan Ny Siyuk itu tidak berbanding lurus. Ada yang memanfaatkan. Seperti tudingan ia obral rekomendasi. Berikut cuplikan wawancara Utusan Rakyat dengan Wabup Maryoto Birowo.

Tanya: Oleh sebagian warga, Anda disebut sering obral rekomendasi. Menurut Anda?

Wabup MB: Ah, ndak benar itu. Saya tidak pernah memberikan rekomendasi kok.

Tanya: Lantas yang terjadi selama ini?

Wabup MB: Saya hanya membaca kemauan masyarakat yang ke sini, kemudian memparafnya. Itu saja kok.

Tanya: Apa itu bukan rekom?

Wabup MB: Bukan. Saya tidak menulis sesuatu di situ. Hanya memparaf yang menandakan saya tahu dan paham keinginan mereka.

Tanya: Mungkin bagi sebagian pejabat, paraf Anda merupakan perintah bagi mereka?

Wabup MB: Begini lho. Yang datang ke sini (rumah dinas wabup, red) itu orang susah. Butuh dibantu. Saya yang dianggap sebagai bapaknya warga Tulungagung, selama saya bisa bantu dan tidak melanggar hukum, apa salahnya saya bantu. Sekali lagi asal tidak melanggar hukum lho…

Tanya: Jenis minta bantuan apa saja Pak?

Wabup MB: Banyak lah. Mulai anaknya ingin masuk sekolah negeri, anaknya ingin menjadi sukarelawan honorer daerah (Honda) dan masih banyak lagi lainnya.

Tanya: Apakah semua dipenuhi?

Wabup MB: Ya ndak lah. Ada masyarakat yang datang minta rekom agar anaknya bisa menjadi sukarelawan di SD yang berada di desa mereka. Setelah saya paraf, ternyata beberapa hari kemudian orang tersebut datang lagi untuk protes ke saya karena anaknya tidak diterima sebagai sukarelawan. Ketika saya tanya apakah SD tersebut butuh sukarelawan? Dia menjawab tidak. Ya sudah, jangan harap paraf saya diperhatikan oleh kepala SD tersebut. Wong memang ndak butuh sukarelawan kok. (setelah itu Maryoto tersenyum)

Tanya: Jadi paraf Anda ada yang ndak laku juga?

Wabup MB: Ha… ha… ha…, begitulah!

Tanya: Yang juga terjadi adalah ada semacam broker atau makelar rekom. Mereka minta rekom untuk memasukkan seseorang atau sekelompok orang menjadi sukarelawan. Kemudian menjual-belikan rekom tersebut.

Wabup MB: Ya, mungkin ada yang menjual-belikan rekom saya. Itu oknum. Saya ini membantu secara ikhlas. Tidak minta uang serupiah pun. Kok tega-teganya menjual rekom yang saya berikan.

Tanya: Jadi isu yang beredar bahwa untuk selembar rekom Rp 1,5 juta itu ndak benar ya Pak?

Wabup MB: Ya ndak benar lah. Coba sebutkan siapa yang saya mintai uang jika ada yang minta rekom ke saya? Ndak ada kan.

Tanya: Adakah tindakan bagi yang menjualbelikan rekom Bapak?

Wabup MB: Ya ndak ada. Kan ndak ada yang melapor ke saya. Jika ada pasti saya proses. (ieL)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »