![]() |
| Wabub Tulungagung Maryoto Birowo |
Andal di Birokrat, Ramah dengan Rakyat
Utusan Tulungagung - Perjalanan karir Maryoto Birowo menanjak terus.
Mulai PNS rendahan hingga menduduki jabatan tertinggi di birokrasi, yakni
sekretaris daerah. Jabatan yang didudukinya juga sangat strategis. Mulai kepala
bapeda, kepala dinas pendidikan dan masih banyak lagi lainnya.
Dengan segudang pengalaman tersebut, tak
berlebihan jika Maryoto Birowo sangat andal dalam bidang birokrasi. Ia
mengetahui seluk-beluk anggaran dan peraturan pemerintah.
Meski begitu, pria asli Besuki, Tulungagung, ini
juga sangat ramah dengan rakyat. Pintu rumah dinas wakil bupati di Jalan Yos
Sudarso terbuka lebar untuk siapa pun. Nyaris saat pagi hari, warga antre
bertemu dengan dirinya. Maryoto pun siap mendengarkan dan mengupayakan jalan
keluar setiap permasalahan.
Kadang, kebaikkan pria beristrikan Ny Siyuk itu
tidak berbanding lurus. Ada yang memanfaatkan. Seperti tudingan ia obral
rekomendasi. Berikut cuplikan wawancara Utusan
Rakyat dengan Wabup Maryoto Birowo.
Tanya: Oleh sebagian
warga, Anda disebut sering obral rekomendasi. Menurut Anda?
Wabup MB: Ah, ndak benar
itu. Saya tidak pernah memberikan rekomendasi kok.
Tanya: Lantas yang
terjadi selama ini?
Wabup MB: Saya hanya
membaca kemauan masyarakat yang ke sini, kemudian memparafnya. Itu saja kok.
Tanya: Apa itu bukan
rekom?
Wabup MB: Bukan. Saya
tidak menulis sesuatu di situ. Hanya memparaf yang menandakan saya tahu dan
paham keinginan mereka.
Tanya: Mungkin bagi
sebagian pejabat, paraf Anda merupakan perintah bagi mereka?
Wabup MB: Begini lho. Yang
datang ke sini (rumah dinas wabup, red) itu orang susah. Butuh dibantu. Saya
yang dianggap sebagai bapaknya warga Tulungagung, selama saya bisa bantu dan
tidak melanggar hukum, apa salahnya saya bantu. Sekali lagi asal tidak
melanggar hukum lho…
Tanya: Jenis minta
bantuan apa saja Pak?
Wabup MB: Banyak lah. Mulai
anaknya ingin masuk sekolah negeri, anaknya ingin menjadi sukarelawan honorer
daerah (Honda) dan masih banyak lagi lainnya.
Tanya: Apakah semua
dipenuhi?
Wabup MB: Ya ndak lah. Ada
masyarakat yang datang minta rekom agar anaknya bisa menjadi sukarelawan di SD
yang berada di desa mereka. Setelah saya paraf, ternyata beberapa hari kemudian
orang tersebut datang lagi untuk protes ke saya karena anaknya tidak diterima
sebagai sukarelawan. Ketika saya tanya apakah SD tersebut butuh sukarelawan?
Dia menjawab tidak. Ya sudah, jangan harap paraf saya diperhatikan oleh kepala
SD tersebut. Wong memang ndak butuh
sukarelawan kok. (setelah itu Maryoto
tersenyum)
Tanya: Jadi paraf Anda
ada yang ndak laku juga?
Wabup MB: Ha… ha… ha…, begitulah!
Tanya: Yang juga
terjadi adalah ada semacam broker atau makelar rekom. Mereka minta rekom untuk
memasukkan seseorang atau sekelompok orang menjadi sukarelawan. Kemudian
menjual-belikan rekom tersebut.
Wabup MB: Ya, mungkin ada yang menjual-belikan
rekom saya. Itu oknum. Saya ini membantu secara ikhlas. Tidak minta uang
serupiah pun. Kok tega-teganya menjual rekom yang saya berikan.
Tanya: Jadi isu yang
beredar bahwa untuk selembar rekom Rp 1,5 juta itu ndak benar ya Pak?
Wabup MB: Ya ndak benar lah. Coba sebutkan siapa yang saya mintai uang jika ada yang minta
rekom ke saya? Ndak ada kan.
Tanya: Adakah tindakan
bagi yang menjualbelikan rekom Bapak?
Wabup MB: Ya ndak ada. Kan ndak ada yang melapor ke saya. Jika ada pasti saya proses. (ieL)
Wabup MB: Ya ndak ada. Kan ndak ada yang melapor ke saya. Jika ada pasti saya proses. (ieL)
